Proses membuat wayang melalui beberapa tahap. Salah satu tahapan adalah menatah wayang. Hasil menatah kulit yang belum disungging (diwarnai) disebut sebagai gebingan. Dalam kamus bahasa jawa makna gebingan adalah “apa-apa sing diirisi (disigari); sigaran blabakan kayu lsp.; iris-irisan krambil, tela lsp.” ( segala sesuatu yang dibelah; belahan dari bilah-bilah kayu dan sebagainya; potongan-potongan kelapa, singkong dan sebagainya). Mengacu kepada bilah-bilah inilah bilah kulit disebut sebagai gebingan
Penyempurnaan gebingan dilanjutkan dengan pemadatan. Pemadatan sendiri terdiri dari dua tahap yaitu pengampelasan dan pemadatan itu sendiri. Wayang yang sudah dipahat kemudian diampelas menggunakan ampelas kasar dan kemudian dilanjutkan ampelas yang halus. Setelah halus wayang kemudian digosok menggunakan kaca yang halus. Hasilnya berupa pahatan yang halus dan mengkilap dan semi transparan.
Pahatan yang bagus memenuhi syarat “mawi sarekuh” : Mapan, Wijang, Semu, Resik, dan Kukuh. Dalam beberapa pengrajin menambahkan dengan Padang, Wijang, Ghukel, Resik, Semu, dan Wulet.
Dalam e-wayang, gebingan terdiri dari dua lapisan (layer). Lapisan pertama disebut sebagai luaran, sedangkan lapisan kedua disebut lapisan pahatan. Kedua lapisan ini membentuk gebingan e-wayang.
1. Gebingan Njaban

2. Gebingan Pahatan

3. Gebingan Wayang Digital




