Wujud Kriya Wayang Kulit

    Wayang kulit memiliki wujud yang unik. Unik yang dimaksud disini adalah wujud wayang mempunyai pengertian sebagai sebuah karya ekspresionis. Menurut  keterangan Sutrisno (1964) yang dimaksud sebagai seni rupa wayang merupakan gambar ekspresif dekoratif yang diterapkan pada wujud wayang.

    Wayang-wayang itu adalah gambaran watak-watak manusia. Sebagian besar dasar watak banyak dilukiskan pada wujud raut muka, yaitu pada posisi bentuk dan warnanya. Ada juga yang dilukiskan pada ukuran tubuh dan bentuk tubuhnya (Soekatno, 1992).

    Berdasarkan wujud dan bentuk tubuh wayang antara lain alusan luruh, alusan lanyap, pidekso/sembada, gagahan, wanara/kera, raksasa, setanan, panakawan dan putri. Wujud tubuh wayang ini juga mewakili sifat dan karakter wayang.

    Bentuk ekspresi mata, hidung, dan mulut mempengaruhi antara lain antawencana/suara dan sifat. Wujud mata wayang terdiri dari liyepan/gabahan/biji gabah, kedelen (biji kedelai), dondongan (biji kedondong), thelengan (mentheleng/bulat sedang), tholongan (bulat besar dan melotot), kriyipan, kelipan, klecepan (rembes), plerokan dan juling (kero) (Soekatno, 1992). Jenis-jenis mata di atas adalah bentuk dasar, para seniman masih mengembangkan bentuk mata sesuai dengan wanda (ekspresi) wayang.

    Bentuk hidung wayang juga memberikan sifat pada wayang. Wujud hidung wayang terdiri dari hidung runcing, hidung tumpul (bentulan), bungker, dempok, ngungkal gerang, nyunthi, medang, nyenthang, nyanthik, hidung bulat, ngemlik, dan panjang. Bentuk mulut wayang antara lain gethetan, mesem, gusen, mringis, mrenges, mrongos, dan ngablak. Identifikasi sifat dan ekspresi wayang juga dicerminkan dalam jenis busana, perlengkapan busana (sumping, sanggul, ulur-ulur, dodot, kampuh, bokongan, jamang dll).

    Pada tingkat selanjutnya, ekspresi wayang diwujudkan dalam bentuk wanda atau ekspresi karakter dan sifat wayang. Satu karakter wayang bisa mempunyai banyak wanda.  Wanda adalah penggambaran suasana hati dan karakter wayang (Sudjarwo, Sumari, & Wiyono, 2010). Wanda muncul dari gerak dan suasana hati seniman dalam upaya sepenuh hati mewujudkan wayang untuk mendukung ekspresi dalam pagelaran wayang. Dalam hal ini, penggunaan wanda dalam pagelaran wayang dilihat dari pathet dan jenis adegan wayang. Wanda wayang dapat diidentifikasi dari longok atau tumungkul-nya kepala dan muka, perawakan yang gemuk atau kurus, menjejaknya kaki dan wujud berdirinya wayang, bedahan (kombinasi bentuk wajah, hidung, mata, mulut dan perwajahan) dan perlengkapan busaha dan perabot, pewarnaan/sunggingan (Sutrisno, 1964).

    Untuk mewujudkan wayang kulit seperti di atas, pembuatan wayang terdiri dari beberapa proses. Proses-proses tersebut secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga besar, yaitu persiapan dan pengolahan media kulit, pembuatan pola dan memahat, serta menyungging wayang.