Sungging Digital

    Mewarnai wayang atau disebut sebagai sungging, memiliki dasar-dasar tahapan sesuai dengan kaidah menyungging. Dasar-dasar tersebut antara lain berupa tata pembuatan bahan pewarna, membuat warna pokok, membuat pencampuran warna, membuat lapisan dasar, membuat gradasi warna hijau, merah dan biru, mewarnai bagian muka, rambut, dan badan. Pewarnaan disusun berlapis dari warna muda hingga warna yang lebih tua. Selanjutnya membuat drenjeman (titik-titik), sawutan/cawi (pola garis sejajar), dan balesan/waleran (garis batas antar pola) untuk mempercantik warna wayang.

    Dalam sunggingan juga mendeskripsikan sifat dan karakter wayang serta menentukan jenis wanda. Misalnya warna muka hitam menggambarkan raut muka lebih tenang dan berwibawa, warna merah atau oranye memberikan kesan keras, kurang sabar (Haryanto, 1995).

    Menurut Sukir (1980), tahapan menyungging wayang terdiri atas:

    1. Mendasari, membuat lapisan warna putih pada gebingan (wayang dalam wujud pahatan).
    2. Mewarnai Hitam, yaitu membuat warna hitam pada bagian-bagian yang seharusnya berwarna hitam, misalnya muka, gelung dll.
    3. Mrada, yaitu melapiskan prada pada bagian-bagian yang berwarna emas.
    4. Mepesi, yaitu membersihkan bagian-bagian yang seharusnya tidak diprada tetapi terkotori oleh prada.
    5. Menjambonkan, yaitu memberi warna jambon untuk inisial gradasi merah.
    6. Menguningkan, yaitu memberi warna kuning untuk inisial gradasi ke arah hijau.
    7. Menghijaumudakan, yaitu membuat warna hijau pada lapisan warna kuning.
    8. Membirukan dan Mengapurantakan, yaitu membuat warna biru muda dan apuranta (warna merah kekuningan/oranye muda).
    9. Membuat Warna Tua, seluruh bagian warna muda, yaitu jambon, kuning, hijau muda dan apuranta kemudian dilanjutkan dengan mewarnai warna yang lebih tua.
    10. Membuat Warna Ungu, yaitu mewarnai bagian-bagian tertentu dengan warna ungu. Misalnya, muka garuda, dawala, dan celana.
    11. Nyawi, yaitu memberikan warna garis-garis lurus pada gradasi hijau, merah maupun biru, misalnya pada wastra atau sembuliyan.
    12. Drenjemi, yaitu memberikan hiasan titik-titik pada pola-pola pahatan mas-masan, patran dll.
    13. Maleri, yaitu membuat garis batas pada bagian-bagian yang tidak dicawi mapun didrenjem. Tujuannya untuk membuat batas antara bagian.
    14. Angraupi, yaitu mewarnai bagian muka. Warna muka ada yang hitam, oranye, prada, biru dll.
    15. Menggembleng, yaitu mewarnai badan wayang yang berwarna emas.
    16. Ngulat-ulati, yaitu memberikan lukisan pada kumis, mata, gigi, hidung, telinga, dll pada bagian wajah.
    17. Angedus, yaitu berasal dari kata adus/mandi. Memandikan wayang berarti melapisi seluruh permukaan wayang menggunakan pelapis transparan untuk mencegah kerusakan dan memberikan efek mengkilap.

    Selain teknik pewarnaan, prinsip menyungging juga membutuhkan pengetahuan tentang busana wayang. Wayang halusan dan wayang gagahan, raja, ksatria atau pun panakawan mempunyai pokok-pokok sunggingan yang berbeda. Wayang satria dan raja umumnya menggunakan batik parang rusak, tetapi terdapat pengecualian pada wayang halus misalanya Arjuna. Wayang panakawan menggunakan pola batik kawung. Pengetahuan ini seyogyanya juga didukung pengetahuan mengenai batik dan jenis polanya.

    Setelah disungging, selanjutnya diberikan gapit yang disebut sebagai cempurit. Bahan cempurit bisa dari tanduk kerbau/sapi, kayu atau bambu. Perlengkapan lainnya adalah pemasangan gegel (engsel pengait antara siku-siku tangan).