Gareng

    Gareng adalah salah satu panakawan untuk keturunan trah Witaradya. Gareng juga tidak disebutkan dalam kitab Mahabharata, sehingga Gareng merupakan wayang hasil gubahan asli Indonesia.

    Ciri-ciri Gareng

    Ciri utama gareng adalah mempunyai mata kero (juling), hidungnya bulat, tangan ceko (bengkok berkelok) dan berkaki pincang (kaki depan lebih pendek dari kaki belakang sehingga harus berjinjit ketika sendang berjalan).

    Ukuran dalam pewayangan normalnya panjang 35 cm dan lebarnya 15 cm.

    Dasanama 

    Nala Gareng, Nalawangsa , Pancalpamor, Pegatwaja

    Masa Lalu Gareng
    Menurut lakon “Bathara Ismaya Krama”, diceritakan bahwa resi Sukskadi di padepokan Bululuktiba mempunyai anak bernama Bambang Sukskati yang sedang bertapa di bukit Candala. Setelah menjalankan tapanya, Bambang Sukskati mohon diri kepada ayahnya untuk pergi menahlukkan raja-raja. Pada saat yang sama di padepokan Kembangsore berdiam seorang pendeta gandarwa bermana Begawan Salantara, yang mempunyai anak bernama Bambang Panyukilan yang juga bersamadi di tengah hutan. Sesudah menyelesaikan tapanya, ia juga minta diri kepada ayahnya untuk pergi menguji kesaktiannya.

    Di tengah perjalanan Bambang Panyukilan berjumpa dengan Bambang Sukskati. Karena sama-sama congkaknya dan sama-sama mempertahankan pendiriannya, terjadilah perang antara keduanya. Mereka mempunyai kesaktian yang berimbang, sehingga tidak ada yang kalah dan menang dalam perang tersebut. Ketika itu, datanglah Batara Ismaya dengan pengiringnya, Bagong. Peperangan Bambang Panyukilan dan Bambang Sukskati dilerai oleh Batara Ismaya. Keduanya diberi nasihat, bahwa kecongkakan akan mengakibatkan kebencian dan dendam, pertengkaran dan perkelahian adalah merupakan sebuah perbuatan yang tidak baik.

    Dari perkelahian yang berimbang tadi telah berakibat rusaklah wajah dan wujud keduanya menjadi sangat jelek. Kemudian oleh Batara Ismaya kedua ksatria tersebut diberi nama baru :

    Bambang Panyukilan menjadi Nala Petruk
    Bambang Sukskati menjadi Nala Gareng

    Batara Ismaya kemudian memberikan wejangan ilmu kesempurnaan kepada mereka berdua dan mereka kemudian mengabdi kepada Batara Ismaya. Keduanya diakui sebagai anak oleh Batara Ismaya. Dengan urutan Gareng, Petruk dan Bagong.

    Keluarga Gareng

    Nala Gareng menikah dengan Dewi Sariwati, putri Prabu Sarawasesa dengan permaisuri Dewi Saradewati dari negara Salarengka. Perjuangan mendapatkan istrinya dibantu oleh Resi Tritrusta dari negara Purwaduksina.

    Gareng dalam pewayangan

    Nala gareng pernah menjadi raja dengan gelar Prabu Pandupragola atau Prabu Pandupracola. Kekuasaan Gareng berada di negara Rancanggeribig atau Paranggumiwang. Dikisahkan bahwa Prabu Pandupragola akan menahlukkan semua raja-raja, termasuk Pandawa ditahlukannya. Penasihat Amarta, Prabu Kresna menasihati agar Petruk menghadapi Prabu Pandupragola. Petruk awalnya tidak mau, karena Pandawa pun kalah, apalagi Petruk. Akhirnya dinasihati oleh Semar untuk tetap menghadapi Prabu Pandupragola.Akhirnya terjadilah perang antara Pandupragola dan Petruk. Hingga akhirnya, Pandupragola kembali kepada wujud aslinya Gareng.

    Ketika ditanya oleh Kresna, apa yang menyebabkan Gareng berlaku demikian adalah sebagai pengingat kepada Pandawa selalu waspada dan tidak melupakan para kawulanya.

    Simbol Gareng

    Kecacatannya merupakan simbol, sebagai berikut :
    Hidung besar : pandai dan tajam penciumannya
    Mata Juling dengan melirik ke atas dan ke samping : melihat suatu persoalan tidak hanya melihat apa yang dilihat di depannya saja, tetapi memperhatikan keadaan sekelilingnya dengan cermat.
    Tangan yang Ceko : tidak ada keinginan mengambil dan memiliki apa yang dilihat dan diinginkannya
    Kaki pincang : setiap langkah selalu diperhitungkan dan sangat hati-hati

    Wanda Gareng 

    Wregul
    Adeg Angrong
    Jangga Panjang
    Praupan Longok
    Pundak Pajeg
    Badan Weweg
    Praian Ciut

    Kancil
    Adegipun Pajeg
    Jangga Celak
    Bahu andap ngajeng
    Praian Wiyar
    Badan Kera Wiwing

    Gembor
    Adegipun Pajeg
    Jangga Celak
    Praupan Abeker, Tumungkul
    Pundak Pajeg
    Badan Weweg
    Praian Wiyar

    Gandrung
    Bayang
    Yanggleng
    Jangkrik
    Koral
    Pacet

    Sumber :

    1. Ensiklopedi Wayang Purwo I (Compendium)
    2. Wayang Kulit Purwa – Klasifikasi, Jenis dan Sejarah oleh Soekatno, BA
    3. Bayang-bayang Adhiluhung oleh S. Haryanto
    4. Wanda Wajang Purwa oleh R. Sutrisno
    5. Berbagai sumber lainnya